Mengenal Bidikmisi Bersama Ani Herjani

Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi lazimnya merupakan cita-cita semua orang. Tapi, bagaimana bagi seorang anak dari keluarga kurang mampu? Kenyataannya, masih banyak pelajar yang terpaksa berhenti bersekolah, apalagi melanjutkan kuliah, hanya karena alasan ekonomi. Keterbatasan anggaran negara, di lain pihak, menyebabkan pendidikan gratis dan merata di Indonesia masih merupakan utopia saja.

Berkenalan dengan Ani Herjani, S.Sos, M.Ap, sedikit banyak memberi gambaran lebih jelas tentang permasalahan di atas. Ia adalah pengelola Program Bidikmisi di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, sejak tahun 2011 hingga sekarang. Sungguh disayangkan menurut Ani, hingga sekarang masih banyak potensi terbaik anak bangsa yang terancam berhenti kuliah karena keterbatasan biaya. Ani merasa sangat bersyukur, Program Bidikmisi hadir untuk memberi solusi bagi mereka yang membutuhkan, betapa pun diakuinya belum memenuhi seluruh harapan.

Sebagai ilustrasi Ani mencontohkan, ada mahasisiswa UPI yatim piatu yang sangat cerdas tetapi hanya ditopang oleh kakaknya yang buruh harian lepas, padahal ia sangat ingin melanjutkan kuliah. Ada juga mahasiswa lainnya yang kedua orang tuanya bercerai. Baik ibu maupun bapak kandungnya masing-masing sudah menikah lagi, sementara sang anak malah ditinggalkan oleh mereka.

“Yang sangat miris,” tutur Ani, “anak itu juga dibebani mengurus dua orang adiknya yang masih kecil! Tapi, dia sangat bersemangat untuk kuliah. Jadi, ketika dia kuliah harus bergantian dengan adiknya untuk menunggui satu adik lainnya yang masih balita. Untuk ongkos kehidupan sehari-hari, adiknya bersekolah sambil jualan gorengan.”

Masih banyak lagi kisah sedih lainnya yang melatar-belakangi para peserta Bidikmisi, tutur Ani. Semua itu mendorong semangatnya dalam mendukung program Bidikmisi agar berjalan lebik baik lagi. Perempuan yang mengenyam pendidikan di SDN Cijeungjing, SMPN I Ciamis, SMAN I Ciamis dan menempuh jenjang S1 serta S2 (Magister Administrasi Publik) di STIA LAN RI tersebut sangat merasakan suka-duka menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Banyak pihak yang sangat membutuhkan bantuan untuk melewati proses pendidikan tersebut.

“Saya pribadi menekankan kepada temen-teman di sini, ini adalah pekerjaan hati, ibadah amal bekal akherat. Jangan diukur berapa nominal sebagai pengelola (Bidikmisi) dibayar, tapi seberapa jauh kebermanfaatan kita untuk orang banyak, di luar tugas kita sebagai abdi negara,” papar perempuan yang bekerja sebagai PNS di UPI sejak tahun 1993 tersebut.

Program Bidikmisi dimulai pada saat Menteri M. Nuh memimpin Kemdikbud RI. Program yang berslogan “memutus mata rantai kemiskinan” tersebut termasuk ke dalam program 100 hari pemerintahan SBY. Program dirancang dengan menyasar mahasiswa yang cerdas secara akademik tetapi berasal dari keluarga miskin. Peserta program Bidikmisi mendapatkan pembayaran uang kuliah dan diberi uang saku setiap bulannya. Pengelola menyalurkan dana Bidikmisi tersebut dengan mengacu pada prinsip 3T, yakni: tepat sasaran, tepat waktu dan tepat jumlah.

“Tujuannya, tidak ada lagi anak cerdas yang ingin melanjutkan kuliah, berhenti karena miskin, karena orang tuanya tidak mampu bayar,” ungkap Ani. Hal itu menurutnya merupakan pelaksanaan tugas negara, karena anak-anak yang miskin tersebut seharusnya memang dipelihara oleh negara sesuai amanat UUD’45. Syarat peserta Bidikmisi sendiri ditegaskannya hanya dua: cerdas dan dari keluarga miskin/tidak mampu. Syarat tersebut dipenuhi dengan bukti SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) yang ditanda-tangani oleh camat, keterangan keluarga tidak mampu dan/atau penerima BSM (Bantuan Siswa Miskin). Calon peserta Bidikmisi juga direkomendasikan oleh Kepala Sekolah yang bersangkutan.

Disinggung tentang SMP tercinta, sebagai alumni Ani mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada guru-guru di SMPN 1 Ciamis yang telah menempa dan mentransfer ilmu, serta membina karakter sehingga menjadi pribadi yang mandiri dan mau belajar hingga menjadi seperti sekarang ini.

Ani mendorong para siswa untuk tetap optimis dan berusaha. “Tetap semangat belajar! Bahagiakan orang tua dengan prestasi kita. Jadilah orang yang penuh rasa syukur, karena nilai seseorang bukan hanya dari rangking terbaiknya, tetapi juga sejauh mana kebermanfaatannya dalam hidup untuk sekelilingnya,” pungkasnya di akhir pembicaraan dengan alumnismpn1ciamis.com.

Post a Comment

No comments