Mullah Nasruddin Tertimpa Kacang Kenari

Mullah Nasruddin sedang berada dalam sebuah perjalanan di suatu siang yang panas di bulan Ramadhan. Ia kemudian memutuskan untuk rehat sejenak di bawah naungan sebuah pohon kenari yang rindang. Sembari merasakan sejuknya angin dan rindangnya dedaunan, ia mulai mengamati ke sekelilingnya. Matanya terpaku pada buah-buah labu yang tampak besar di antara rambatan tumbuhan tersebut. Buah labu yang besar, padahal pohonnya tampak halus dan hanya mampu merambat saja, tampak mencolok dibanding dengan ukuran kacang kenari, kecil-kecil saja, yang ada di pohon besar yang menaungi Sang Mullah.

“Ah, kadang-kadang aku tak paham dengan cara-cara Allah,” pikirnya, “kenapa buah kenari malah tumbuh di pohon yang besar ini, sementara buah labu yang besar malah tumbuh di tanaman yang merambat seperti itu?”

Tiba-tiba, meluncurlah biji kenari dan menimpa kepala Mullah Nasruddin yang botak. Pletak! Sang Mullah terperanjat dan seketika menemukan kesadarannya. Ia segera bangkit dan mengangkat tangan serta wajahnya ke arah langit, sembari berkata, “Ya, Tuhan… maafkan hamba-Mu yang lancang ini, yang telah berani mempertanyakan kebijaksanaan-Mu. Engkau Mahabijaksana. Bagaimana nasibku, jika buah labu tumbuh di pohon ini….”

Catatan:
Pohon kacang kenari yang dimaksud dalam kisah ini adalah pohon ‘walnut’ (Juglans regia). Pohon tersebut pada awalnya adalah tanaman asli Eropa sebelah tenggara dan Asia sebelah barat, dan kemudian dibudidayakan di daerah Galilea dan lereng-lereng Lebanon dan sekitarnnya (sejak abad 1 Masehi, menurut catatan sejarawan Yahudi).

Pohon kenari tumbuh mengesankan, dapat mencapai tinggi hingga 9 meter, memiliki dedaunan yang wangi dan sangat rindang. Kayunya bertekstur rapat dan dinilai tinggi oleh para pembuat perabot karena keindahannya. Buahnya berselaput kulit ari yang mengandung asam tanat dan sewaktu direbus menghasilkan bahan pewarna cokelat tua. Daging kacangnya sangat bernilai karena rasanya yang gurih dan jika diolah maka dapat menghasilkan minyak yang mutunya hampir sama dengan mutu minyak zaitun.

(source: Ramadan Humour, pic credit: wikipedia)

Post a Comment

No comments