Undang Pesta Ultah ke-15 via Facebook, Rumah Sarah Hancur oleh 800-an Tamu Remaja Brutal

Sarah tidak pernah membayangkan akibat sangat fatal yang dapat timbul dari pesta ultah ke-15 yang diadakan di rumahnya, di daerah Billericay, Essex, Inggris. Sejatinya gadis ini akan merayakan ultah tersebut di bulan Februari, tetapi karena ada acara kunjungan sekolah pada tanggal sebenarnya, maka ia berinisiatif memajukan pesta ke tanggal 7 Desember 2012.

Ibunya, Esther Hines (56), sebagaimana dilansir DailyMail, tidak merasa terlalu kuatir ketika anak gadisnya bertanya apakah ia tidak keberatan untuk menjadi tuan rumah pesta tersebut. Dengan lugunya sang ibu berpikir bahwa tamu yang akan hadir hanya sejumlah 30-an remaja yang akan duduk manis sambil mengunyah keripik, mengobrol dan mendengarkan lagu-lagu terbaru. Pastinya pesta anaknya akan bebas pula dari alkohol.

Pukul 7 malam itu Sarah dan teman-temannya cekikikan dengan ceria di kamarnya, sementara sang ibu sibuk menata camilan setelah mengunci lemari minuman beralkohol. Semua berjalan seperti yang dibayangkannya, sampai kemudian bencana itu datang.

Pukul 7.30, bel berbunyi. Saat itulah Esther melihat kerumunan banyak remaja dan mereka berkata, "Kami kesini untuk berpesta, boleh kami masuk?"

Insting sang ibu mendorongnya untuk membiarkan mereka masuk dan bahkan memikirkan menutup jalan agar 'tamu-tamu' anaknya tidak mengganggu tetangga. Dan itulah awal malapetaka yang membuat Esther dan anaknya shock berat, karena ternyata ratusan remaja dari berbagai pelosok Inggris berdatangan melalui stasiun kereta terdekat, sembari banyak diantara mereka sudah menenteng alkohol, untuk 'memeriahkan' pesta.

Pukul 9 malam. Hanya dibutuhkan waktu 90 menit untuk menyaksikan kehancuran rumah keluarga Esther berlangsung. Ia dan anaknya Sarah segera terdesak keluar dari rumah mereka tanpa bisa masuk lagi. Mereka hanya dapat menyaksikan aksi penghancuran, tanpa mampu berbuat apa-apa.

Seluruh rumah acak-acakan, isi lemari berhamburan, pecahan kaca ada dimana-mana. Tulisan bernada kotor ditinggalkan para tamu di dinding dan langit-langit kamar, sementara piano bahkan dilemparkan keluar lewat jendela. Banyak furnitur rumah rusak dan pecah.

Tamu menjebol langit-langit ketika sebuah komputer dijatuhkan dari loteng menembus kamar dibawahnya. Toilet pun bahkan tidak luput dari kejahilan, dengan makanan anjing berserak dilumuri pasta. Ditemukan pula salah satu kasur digunakan sebagai tempat buang air besar. Tak lupa, tempat menaruh pakan burung (birdfeeder) dijatuhkan ke tanah.

Sebagian aksi perusakan bahkan tidak dapat dipikirkan oleh tuan rumah. Sarah dan ibunya hanya bisa tercengang dan bengong, tanpa mampu menahan aksi penghancuran tersebut. Polisi kemudian datang, itupun setelah mereka dilapori oleh tetangga rumah yang merasa terganggu.

Rumah seharga sekitar 4,7 milyar rupiah itu sangat mengenaskan keadaanya, ketika Sarah dan ibunya diijinkan masuk oleh petugas, setelah 'tamu' terakhir berhasil dihalau keluar.


"Harusnya ini menjadi pertemuan sebelum natal yang indah," kata Esther sambil berurai air mata. Ia kini harus menanggung biaya perbaikan rumah yang ditaksir sekitar 470 juta rupiah untuk rumah tinggal mereka, pada saat ia terpisah dari suaminya yang kini tinggal di Argentina. Esther yang hanya tinggal bersama dua anaknya, Sarah dan Rachel (19), naasnya juga baru saja melewatkan perlindungan asuransi untuk rumahnya. Esther juga menerima keluhan dari para tetangga yang menyalahkan dirinya atas keributan malam itu, boleh dibilang sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Satu-satunya hiburan adalah bahwa ada beberapa teman Sarah yang kembali datang untuk membantu membersihkan rumah setelah semua kekacauan tersebut. Sarah dan Ibunya baru harus memilih bagian yang agak bersih dari tempat tidur mereka untuk sejenak tidur di pagi hari, sebelum melanjutkan kembali aksi bersih-bersih.

Kedua anak gadisnya sebenarnya bersekolah di tempat yang memiliki reputasi terpandang, berseragam istimewa dan memiliki kualitas lulusan yang baik. Mereka menjalani masa remaja dari kalangan masyarakat kelas menengah dengan normal dan bahkan mendapatkan les balet dan berkuda.


Kenapa pesta remaja dari kalangan kelas menengah dapat menjadi sebuah kekacauan dalam waktu singkat? Rupanya Sarah membuat kesalahan kecil yang berakibat besar: ia mengundang via facebook.

Meskipun ia merasa membuat undangan dengan privacy untuk grup kecil teman-temannya, tetapi nampaknya undangan itu sendiri dapat dilihat publik, sehingga menjadi ajang keisengan para remaja yang tak pernah diduganya. Ada juga dugaan bahwa aksi seperti ini memang digerakkan oleh kelompok remaja yang mencari sasaran untuk penyerangan pesta dengan motif serupa.

Pesta-pesta yang berubah menjadi bencana bukan hanya baru sekali terjadi di rumah Sarah Hines. Kerugian yang terjadi pun bahkan ada yang sampai merenggut jiwa, tidak hanya menghancurkan tempat pesta. Semua itu pastinya sebenarnya tidak luput dari perhatian ibunya Sarah, tapi sikap naifnya membuat bencana tetap terjadi.

Lebih menyesakkan perasaan Sarah dan ibunya, adalah bahwa sebenarnya pihak sekolah Sarah -yang dalam hal ini patut mendapat pujian- sudah mengirimkan peringatan dini tentang undangan yang dibuat di facebook. Sayangnya sang ibu mengaku hanya merasa ditanya tentang pesta tersebut, yang tentu sepengetahuannya, dan melewatkan bagian 'facebook'-nya.

Kejadian ini kembali menjadi peringatan pada orang tua untuk memberi perhatian pada interaksi online para buah hatinya. Kegiatan di dunia maya dapat membawa manfaat tapi juga kerap dapat mengundang bahaya.

Post a Comment

No comments