Teh Fera dan Kenangan Molen Bu Diah

Ibu muda yang baru saja memperoleh kebahagiaan atas kelahiran putri ketiganya ini sempat bertanya, "Eh, emang gue boleh ngaku alumni SMP 1, nih?" Teh Fera seharusnya tergabung dalam Angkatan 1989, tetapi karena kepindahan tempat tinggal orang tuanya maka ia urung memegang ijazah dari SMPN 1 Ciamis. Teh Fera, nama lengkapnya Fera Faradilla, harus pindah sekolah ke ibukota. Meski tidak menyelesaikan sekolah sampai kelas 3 di SMPN 1 Ciamis, kecintaannya terhadap sekolah yang ditinggalkan tidak diragukan lagi. Mengapa begitu?

"(Ini sekolah) paling berkesan," jawabnya tanpa ragu, "SMP 1 menyimpan banyak kenangan manis..."

Pengalaman yang paling membuatnya terkenang tentang SMPN 1 Ciamis adalah aktivitas dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, di antaranya pramuka dan PKS (Patroli Keamanan Sekolah). Tubuh yang jangkung, suaranya yang lantang, serta pembawaannya yang enerjik, membuat Teh Fera kerap menjadi komandan upacara pramuka. Alumnus SMAN 44 Jakarta dan Universitas Indonesia yang sempat berkecimpung dalam dunia marketing ini bahkan masih menyimpan bukti kenangan prestasinya bersama tim kelas menjadi juara 2 basket ball putri di SMPN 1 Ciamis. Plakat yang ditandatangani oleh kepala sekolah, Bpk Iwa Soetisna BA, pada tanggal 11 Desember 1987 tersebut mungkin hanya selembar kertas, tetapi bagi Teh Fera menyimpan kenangan yang tak terlupakan.

Lantas, di antara semua kenangan dan prestasi yang sempat diraih, apa kenangan yang paling berkesan buat Teh Fera? Ternyata bukan basket, atau voli, atau pramuka. Hal yang paling sulit dilupakannya adalah pengalaman tertidur di dalam kelas, sehingga salah menjawab pertanyaan Pak Tauhid, pengajar mata pelajaran Fisika (IPA).

"Sampe salah jawab, harusnya plastisida malah plastik jadi wee disuruh keluar nyuci muka, heu malluuuu...!" ungkapnya, jujur.

Siapa guru favoritnya? Ternyata, Bu Diah pengajar Bahasa Indonesia. Tapi, kita salah menduga kalau berpikir alasannya adalah karena suka pelajaran. Teh Fera menjadikan Bu Diah sebagai guru favorit karena satu alasan: kue molen.

Ya, molen buatan Bu Diah diakuinya, "uenak sekali!" Camilan buatan Bu Diah biasanya dijual di salah satu kantin sekolah yang dulu terletak di sebelah WC guru. Pernah suatu hari molen Bu Diah terlambat matang, sehingga belum tersaji di kantin pada waktunya. Bu Diah mengutus Teh Fera dan beberapa teman sekelasnya untuk mengambil molen tersebut ke rumah beliau, dan sebagai hadiahnya mendapat beberapa molen hangat yang yummy dan wangi. Peristiwa tersebut begitu berkesan, sampai-sampai rasa molen Bu Diah melekat di hati Teh Fera hingga saat ini...

Post a Comment

No comments