Kisah Mereka yang Pernah Dicuci Otak Seperti Lian

Jakarta - Apa yang dialami Laila Febriani alias Lian (26), CPNS Kemenhub yang dicuci otaknya oleh orang tak dikenal, ternyata bukan cerita baru. Di beberapa daerah di pulau Jawa, cukup banyak kejadian seperti ini.

Umumnya target dari orang-orang yang melakukan pencucian otak adalah mahasiswa. Para pencuci otak juga biasanya selalu mencari pendatang dari luar daerah dengan alasan target belum mengetahui kegiatan mereka.

Berikut ini kisah yang dirangkum detikcom dari beberapa orang yang pernah mengalami kejadian seperti Lian.

Cerita pertama datang dari seorang pembaca kepada detikcom, bernama Cahaya. Perempuan yang kini bekerja sebagai PNS di Pemkot Medan ini pernah mengalami apa yang dirasakan Lian. Untungnya Cahaya tidak sampai hilang ingatan seperti Lian.

Wanita berusia 28 tahun ini pun menceritakan kisahnya. Saat itu dia baru saja tiba di Bandung untuk melanjutkan kuliah. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 2002.

"Sebagai temen satu kampus wajar kan kita kenalan dengan teman lain. Nah waktu itu saya berkenalan dengan seorang wanita berjilbab dengan inisial S asal Tegal," cerita Cahaya.

Cahaya tidak merasa ada yang aneh dengan keberadaan S. S dan Cahaya mulai akrab dan sering bermain bersama.

"Suatu hari dia mulai bercerita tentang sebuah pengajian, karena saya berpikir itu pengajian biasa, ya saya ikut saja," katanya.

Sampai hari pengajian tiba, Cahaya dan S pergi ke sebuah rumah yang terletak di daerah Gasibu, Bandung. Masih menganggap ini pengajian biasa, Cahaya tanpa firasat aneh mengikuti pengajian yang menurutnya cukup banyak peminatnya.

"Sampai di sana kami diberikan penggalan ayat, yang isinya tentang kebatilan dan kemungkaran. Dan tiba-tiba saja, dia mulai bercerita tentang hijrah," ungkapnya.

Menurut cerita orang itu, hijrah akan membawa mereka pada ajaran Islam yang sebenarnya. Karena menurut pemahaman mereka, Islam yang saat ini lebih banyak keburukan dari pada kebaikan.

"Saat itu saya tidak langsung mengiyakan, saya pikir-pikir dulu. Tapi didesak supaya mengiyakan saat itu juga. Tapi saya tetap nolak dan mulai merasa ada yang tidak benar. Akhirnya meraka kasih waktu dua hari," katanya.

S terus mendesak Cahaya untuk ikut hijrah. Sampai akhirnya entah kenapa Cahaya menyetujui ajakan berhijrah itu.

Cahaya pun berangkat menuju Jakarta untuk hijrah ditemani seseorang dengan menggunakan bus. Awalnya perjalanan biasa saja sampai ketika tiba di Jakarta, mata Cahaya ditutup dengan kain hitam dan kemudian dibawa menuju ke suatu tempat dimana kelompok itu berpusat.

"Loh saya aneh kenapa ditutup, tapi gak bisa ngelawan, mungkin biar kita gak tau mau dibawa kemana. Kami ada 7 orang waktu itu dari berbagai daerah," ungkap wanita kelahiran Aceh ini.

Singkat cerita sampailah Cahaya di suatu rumah yang entah dimana tepatnya. Mata mereka dibuka saat sudah berada di rumah, kemudian yang lebih aneh, rumah itu semua jendela dan pintu tertutup rapat. Tidak sedikit pun cahaya matahari terlihat.

"Katanya mau dibaiat atau kaya disumpah gitu," kisahnya.

Keesokan harinya, lanjut Cahaya tibalah hari baiat itu. Mereka dimasukkan ke sebuah ruangan dimana sudah ada seseorang yang kemungkinan orang sepuh di kelompok itu.

"Di papan itu ada tulisan dan itu kami baca. Dan sah katanya kami saat itu. Dia bilang dunia kita yang sekarang yaitu menuju akhirat saja, saat itu dia bilang kita sudah tidak ada lagi duniawi dan akhirat terus. Saya pun juga diganti nama," imbuhnya.

Setelah selesai semua proses Cahaya kembali ke Bandung. Tiba-tiba saja keluarganya mengetahui bahwa Cahaya mengikuti sesuatu yang tidak benar.

"Saya pun tersadar dengan itu, walaupun saya sempat tidak terima. Tapi saat saya memutuskan keluar, mereka nguntitin saya terus, sampai saya dibilang musyrik. Tapi aku gak peduli, dan alhamdulillah semua terlewati dan berlalu," katanya.

Apa yang dialami Cahaya juga pernah terjadi pada Indah. Berdasarkan penuturan Rahma, rekan sekolah Indah, awalnya temannya itu bertemu dengan seseorang di terminal yang kemudian diajak cerita tentang agama.

"Lama kelamaan teman saya itu terpengaruh, setiap hari dia bawa agama yang aneh-aneh soal jihad lah, dan tiba-tiba bercadar tanpa sebab," kisah Rahma.

Menurut cerita Rahma, Indah juga mulai berprilaku tidak sopan termasuk pada orang tuanya. "Pernah ditanya sama guru agama 'kamu berguru sama siapa?' Malah diteriakin 'iblis kamu!' Kalian semua kafir," kata Rahma mengenang kejadian saat itu.

"Bahkan orang tuanya sendiri dimarah-marahin, dibilang murtad lah. Akhirnya teman saya kabur dari rumah," lanjut Rahma.

Untungnya saat itu semua bisa dicegah. Indah dijemput keluarga di terminal bus Bogor hendak berangkat ke Pantura, daerah Cirebon. "Waktu itu dia paksa-paksa keluarga," ucapnya.

Dari kisah-kisah ini, hendaknya kita harus lebih berhati-hati pada orang yang tidak dikenal. Cahaya berpesan agar tidak mudah terpengaruh dengan ajakan pengajian yang tidak jelas tempatnya.

(lia/lrn)

sumber: detiknews.com

Post a Comment

No comments