Kisah Vespa Pak Guru dan Sekarung Beras

Kenapa ya setiap membaca tulisan mengenai SMPN 1 Ciamis, pikiran saya selalu teringat dengan seorang guru fisika yang mengajar saya waktu itu. Setiap kali beliau masuk ke kelas dan akan memberikan salam kepada kami, maka suasana kelas diharuskan hening. Jika masih terdengar suara atau terlihat murid ada yang belum siap, maka beliau tidak akan memulai ucapan salamnya.

Setelah itu beliau pasti memanggil dari kami satu persatu, dan yang pertama pastilah KM disusul oleh wakilnya. Ia akan meminta kami untuk menyebutkan rumus-rumus fisika yang banyak itu. Jika tidak bisa menjawab, kami disuruh berdiri sampai ada jawaban dari teman kami yang benar. Jadi kalau diantara kami tidak ada yang bisa menjawab dengan benar juga, maka berderetlah kami berdiri di depan kelas. Kondisi ini terus berlanjut dari mulai kelas 1 sampai kelas 2 (waktu kelas 3 guru fisika yang mengajar bukan beliau lagi).

Ciri khas beliau yang sangat saya ingat adalah gaya merokoknya, dengan kepulan asap yang tebal dan terkadang menutupi raut mukanya (mungkin beliau tidak terlalu kuat membuang asapnya). Beliau juga sebenarnya agak irit dengan rokoknya itu, bahkan keliatannya pengoleksi puntung rokok. Setiap habis merokok, jika rokoknya belum terbakar sampai filter, beliau pasti mematikan dan memasukkannya ke dalam saku baju dinasnya.

"Setiap habis merokok, jika rokoknya belum terbakar sampai filter, beliau pasti mematikan dan memasukkannya ke dalam saku baju dinasnya."

Suatu saat pernah saya merasa benar-benar jengkel sama beliau (wajar kan namanya juga manusia, sifat alami aja sih kalau manurut saya). Hal ini terjadi karena waktu itu headset walkman saya diambil olehnya, padahal headset itu tidak saya pakai dan posisinya sedang saya pegang saja. Beliau pun sebenarnya sedang mengajar di kelas sebelah dan hanya kebetulan saja melihat saya sedang di luar kelas. Waktu itu kelas kami memang sedang kosong dan itu jam terakhir.

Dengan nada suara yang pelan tetapi terasa sangat pahit, beliau mengambil langsung dari tangan saya dan pergi kembali ke kelas sebelah. Saya pun marah, jengkel dan akhirnya mengikutinya. Saya meminta kembali headset tersebut. Beliau malah bilang ambil saja di BP besok pagi setelah istirahat pertama.

Pulang sekolah hari itu, dengan kondisi mental saya masih sangat emosi kepada beliau, tiba-tiba timbul niat untuk membocorkan ban motornya. Niat tersebut berhasil! Tapi apa yang terjadi? Ketika saya tunggu di depan sekolah, ternyata... beliau keluar dari gerbang sekolah dengan mendorong vespa... sambil membawa 1 karung beras! Saya benar-benar merasa bersalah dan berdosa kepada beliau...

"Ketika saya tunggu di depan sekolah, ternyata... beliau keluar dari gerbang sekolah dengan mendorong vespa... sambil membawa 1 karung beras! Saya benar-benar merasa bersalah..."

Terdengar kabar kurang lebih 2 tahun lalu, bahwa beliau terkena sakit dari akhirnya meninggal dunia. Saya hanya terdiam sesaat dan tetesan air mata tak tertahankan lagi.

Selamat jalan Pak, semoga segala amal ibadah bapak di dunia diterima di sisi-Nya dan dimaafkan segala dosa-dosa Bapak. Bekal ilmu dan didikan Bapak akan selalu saya ingat sampai kapan pun.

Selamat jalan wahai pahlawan tanpa tanda jasa.

Kontributor: Joss (unidentified)
Sumber foto: Google

Post a Comment

No comments