Reuni Sepanjang Hayat

Ada yang bilang bahwa artefak patung jerapah (atau ada juga yang bilang kuda) di lokasi kampus SMPN 1 Ciamis akan tetap ada hingga kapanpun. Patung itu seolah menjadi 'kuncen' sekolah dan merupakan bagian yang tak terpisahkan.

Konon menurut informan, icon ini melambangkan masa SMP sebagai masa pekenalan dan interaksi lawan jenis. Menurut terminologi ilmu psikologi modern fase ini disebut sebagai masa 'beger' (hoho), yang artinya para siswa mulai suka pada para siswi, begitu pula (pasti dong) sebaliknya, meskipun hal ini tidak berlaku secara menyeluruh. Ada pula yang samasekali belum punya rasa suka, seperti pengakuan polos beberapa alumni.

Suka sih boleh suka, tapi tidak semua sanggup mengungkap rasa suka terhadap lawan jenis, apalagi sesama jenis (karena terlarang). Sebagai remaja baru gede, timbul pula masalah dengan tingkat ke-pede-an, sehingga sebagian (saja) siswa SMP akhirnya tidak pernah berani untuk bilang suka, yang bahasa kerennya adalah 'nembak'. Akhirnya ada yang berani ngomong, ada yang memakai surat yang wanginya tercium dari jarak 100 meter, ada hanya lewat SMS gombal dari nomor tidak dikenal, tapi ada juga yang memaksakan diri memendam rasa hingga muncul jerawat yang tidak terkendali dan sangat memprihatinkan (alamak). Tragisnya, meski tak pernah kuasa 'tuk ucap kata, setiap berjumpa pasti mati gaya...

Rasa saling suka yang tak terucap ternyata bisa berakhir dengan menakjubkan. Seperti yang dialami oleh Kang Erick Saputra dan Teh Rahayu Ariani. Pasangan alumnus yang lulus tahun 1996 dari SMPN 1 Ciamis ini benar-benar lulus dengan predikat 'jucung ka bale nyungcung' alias diwisuda sebagai suami istri setelah sebelumnya mereka sempat menikmatai kebersamaan di satu kelas selama SMP. Artinya mereka berstatus alumni yang paling sering melakukan reuni, mungkin tepat sekali jika disebut reuni sepanjang hayat. Pasangan ini bahkan sudah dikaruniai sepasang buah hati; Arya Raffa Saputra, nu istri Zhyra Dwi Chanaya. Demikianlah ketika kekuasaan Allah yang berbicara, maka tidak ada yang mustahil ketika Dia menghendakinya (pesanbijak.com).

"Sim kuring tos garaduh rasa ti nuju sakelas teh...," itulah jawaban jujur Kang Erick ketika ditanya mengenai kisahnya. Tapi ia mengaku tak pernah mengucap rasa. Ia mengklarifikasi dalam jumpa pers via inbox, "Mung teu aya istilah tetembakan, jadi berjalan wae dugika nikahna. Makana teu terang hari jadina teh, da teu acan pernah nembak, hehe..."

Kisah yang menarik, dan pasti masih banyak kisah lain yang menarik untuk dibagi dari para alumni semua. Kang Erick bilang, "Aduh bangga (reueus, red.) pisan, aya picaritaeun ka tuang putra (pun anak, red.), hehe..."

Ok deh, selamat reuni sepanjang hayat ya Kang Erick, dan juga untuk pasangan Akang/Teteh lain yang senasib tapi beda penanggungan. Bukan mustahil banyak pasangan alumni SMPN 1 Ciamis yang lain, dengan bermacam komposisi; sama kelas, beda kelas, sama angkatan, beda angkatan, dll.

Post a Comment

No comments